DALIL RAKAAT TARAWIH (BAG. 1)

Diposkan oleh Label: di
Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا
.
فَقَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat (lail) baik di dalam bulan ramadhan maupun di luar ramadhan tidak pernah lebih dari 11 rakaat. Beliau memulai dengan mengerjakan 4 rakaat, kamu tidak usah menanyakan bagaimana baik dan panjangnya shalat beliau. Setelah itu beliau kembali mengerjakan 4 rakaat, kamu tidak usah menanyakan bagaimana baik dan panjangnya shalat beliau. Kemudian beliau shalat tiga rakaat.”

Aisyah berkata: Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum witir?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku memang tidur namun hatiku tidak.” (HR. Al-Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Dalam riwayat lain Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallâhu'anha dalam pernyataannya :

مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزِيْدُ فـِي رَمَضَانَ وَ لاَ فـِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَتً يُصَلِّى أَرْبَعً فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِـهِنَّ ثُـمَّ يُصَلِّى أَرْبَعً فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِـهِنَّ ثُـمَّ يُصَلِّى ثَلاَثً

Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam pada bulan Ramadhan dan diluar Ramadhan tidak pernah shalat lebih dari sebelas rakaat, Beliau shallallâhu 'alaihi wasallam shalat empat rakaat, jangan tanya tentang bagus dan panjangnya shalat beliau. Kemudian shalat lagi empat rakaat, jangan tanya tentang bagus dan panjangnya shalat beliau. Kemudian beliau shallallâhu 'alaihi wasallam shalat tiga raka’at.
(Muttafaqun ‘alaihi).(Shahîh Fiqhus Sunnah 1/388).

Note : Perhatikan dengan seksama, Siti Aisyah Menuturkan 11 rakaat, pertama 4 rakaat, kemudian 4 rakaat, di tambah 3 rakaat, jadi 4 + 4 + 3 = 11. Kemudian lihat kalimat “mengerjakan shalat (lail) baik di dalam bulan ramadhan maupun di luar ramadhan tidak pernah lebih dari 11 rakaat “ Apakah ini berarti Rasulullah pernah tarawih di luar ramadhan? Jawabnya Pasti tidak pernah, sebab sejauh ini tidak ada satu riwayatpun yang mengatakan Nabi pernah tarawih di luar ramadhan.

Kemudian kalimat di atas selalu menyebut “ (Jangan tanya tentang bagus dan panjang shalat beliau)” dalam hal ini memang banya riwayat menyebutkan Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam memperlama berdiri, sujud dan memperbanyak do’a pada saat ruku‘ dan sujud, sampai-sampai diceritakan dalam riwayat Hudzaifah radhiyallâhu'anhu bahwa Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam membaca al-Baqarah, an-Nisâ‘ dan Ali ‘Imran.
Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam membaca dengan pelan-pelan. Beliau berdo’a saat membaca ayat-ayat tentang rahmat, dan memohon perlindungan ketika membaca ayat-ayat tentang siksa Allâh Ta'ala. Jika melewati ayat yang mengandung tasbih, Beliau bertasbih. Waktu ruku‘ Beliau hampir sama dengan lama berdirinya, sujudnya hampir sama dengan ruku’nya.

Inilah sunnah Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dalam shalat malam dan tahajjud Beliau secara umum.

Hadist yang berkaitan dengan hadist di atas adalah Dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Sesungguhnya puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud, sedangkan shalat yang paling disukai Allah adalah juga shalat Daud alaihissalam. Beliau tidur hingga pertengahan malam, kemudian bangun (untuk shalat lail) selama sepertiga malam, lalu kembali tidur pada seperenamnya (sisa malam). Dan beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR. Al-Bukhari no. 1131)

Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ افْتَتَحَ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun di malam hari untuk menunaikan shalat malam, biasanya beliau memulai shalatnya dengan dua rakaat ringan.” (HR. Muslim no. 767)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dilanjutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim no. 489) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan :

فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.” (HR. Muslim no. 488)
Hadist di atas hendaknya janganlah kalian semua memutus-mutus atau menggunting-gunting, Apabila kita mau mentauladani sunnah Rasul hendaknya kita harus amanah tidak membongkar pasang hadist kita bawa untuk kepentingan, biarlah itu apa adanya dan pada tempatnya, Sesungguhnya masih buanyak hadist dan astar-astar yang berkaitan dengan itu (qiyamullail) Bersifat amm, Namun biarlah biar tidak terkesan tajam.

Apakah Anda Berpikir "Mana Dalil tarawih nya?" atau juga anda berpikir Dalil di atas sama sekali tidak berbicara tentang tarawih...! Betul sekali, sayapun juga berpikir seperti itu, Tapi tidak mengapalah walaupun terkesan memaksakan diri, apabila hadist di atas di jadikan hujjah untuk tarawih, Memang tidak ada satupun hadist yang berbicara tarawih itu 8 maupun 11 rakaat.

Kemudian Biar menemukan titik terang apakah hadist-hadist di atas itu bisa di jadikan dalil dari shalat tarawih? Maka kita Tinjau dari perowi hadist itu sendiri yaitu Imam Bukhori dan imam Muslim yang meriwayatkan hadist di atas, Apakah imam Bukhori dan imam Muslim melaksanakan tarawih 8 / 11 ataukah 20?

Bersambung....
Post a Comment

Back to Top